2024/01/06

6 April 2021- Jiwa Indah


Hanya ada sedikit ruang yang saya sisakan untuk memikirkan hal lain selain skripsi, and you’ve taken up the whole of it.

Masalah rasa ini terkadang memang sangat membingungkan. Sudah 22 tahun saya hidup, sampai sekarang, masih belum juga saya paham jawabannya. Ada sebuah keinginan untuk menyapamu. Sedikit menceritakan tentang keadaan ini sembari bertanya bagaimana denganmu. Tapi keraguan yang saya punya jauh lebih besar. Logika pun masih bekerja dengan lancar. Menolak mentah-mentah setiap pembenaran yang dimunculkan oleh hati. “Emang kamu siapanya” “Dia sudah ga inget lagi sama kamu” “Ada yang sedang ia cari perhatiannya, tapi bukan kamu” “Kamu sudah tersisih, sejak lama” Dan berbagai kalimat lain yang terus menghampiri di kepala, menciutkan segala keberanian untuk sekedar memanggil namamu. Menampikkan segala upaya untuk sekedar berharap padamu.

Berkali-kali saya redamkan hati untuk menggapaimu. Berulang-ulang saya coba padamkan rasa untuk mendekapmu. Mematikan segala tekad untuk terus ada diduniamu. Namun jiwa ini tetap tak mau mengalah. Masih terus dengan keyakinannya untuk mengisi ruang hatimu. Masih terus dengan hasratnya untuk berada dalam genggamanmu. Sebegitu kuatnya, hingga yang saya dapat hanyalah hampa -dan bayang tentang pelukmu yang tak kunjung jadi nyata.

Sempat bertemu dan mengukir cerita denganmu sudah sepatutnya saya syukuri. Tanpa meminta lebih, sudah seharusnya hati saya bersorai ria dapat mengenal baik siapa dirimu. Tak semua orang punya kesempatan sama. Tapi saat kau beranjak, barulah semua terlihat.  Ada seberkas rasa yang kau lupa tuk bawa, entah apa itu namanya. Lalu terbesit tanya di dada: Siapa yang menginginkan jiwa indah itu untuk pergi? Satu hari, dua hari, semua masih manis. Satu bulan, dua bulan, masih dapat saya mencernanya. Satu tahun, dua tahun, ah, adakah sisa tempat untuk saya di hidupmu?

Kalau ada, mungkin saya akan menyapamu malam ini juga.
Kalau tidak, mungkin saya sudah menyapamu malam yang lalu.