Kecewa datangnya ratusan kali. Kalau bisa dengan tepat saya hitung, mungkin sudah sampai ratusan kali. Rasanya kecewa sudah jadi teman baik. Tapi tiap kali datang, sakitnya tak pernah lebih indah. Perihnya tak pernah lebih tenang. Lukanya tak pernah lebih kecil. Harusnya sudah terbiasa, tapi tiap kali terasa, rasanya tetap seperti baru pertama. Hancur dan sedihnya sama seperti hati yang tertancap busur panah. Mungkin karena saya hanya manusia. Mungkin karena harapnya juga kepada manusia.
Mau terbiasa bagaimanapun, yang namanya kecewa, tetap punya suara tangis yang sama..