Kalau setiap detik yang kita lakukan adalah menjaga perasaan sesama, lalu kenapa sesama seperti tak tau arti membela?
Sebagai manusia, rasanya sudah banyak saya ucap kata maaf. Sudah banyak diri ini mundur, mengambil langkah ke belakang agar semua merasa nyaman. Tapi, untuk manusia lain, mungkin mundur bukan nilai tinggi, berjalan mengalah bukan hal yang patut disegani, menerima apa-apa yang seharusnya bisa saya tolak -bagi manusia lain- bukanlah hal baik. Justru dimata mereka, rendahlah saya dianggapnya. Disetiap gerakkan yang saya buat, hinalah saya di pikirannya. Padahal, sebagai manusia, aman dan nyamanlah yang ingin saya cipta.
Daripada terus-terusan dihantui rasa bersalah, dihantui rasa ketidaktahuan
Daripada terus-terusan dibelenggu, dijadikan cahaya lilin yang menganggu
Daripada terus-terusan dipasung, dipaksa menelan egoisme yang membumbung
Bukankah, lagi dan lagi, sudah saatnya menyerah? Bukankah, lebih baik, jika semua berbalik arah?
Karena yang menerima sudah tak sanggup lagi menelan
----yang memberi sudah tak mungkin lagi mengasihi.