Selamat
malam, kamu.
Sang
purnama yang dulu sempat menerangiku.
Apa
kabar?
Ku
harap baik. Ku harap semesta menjagamu dengan sangat baik.
Waktu
berjalan begitu cepat, ya. Rasanya baru kemarin kita berkenalan, menertawakan
hal yang sama, saling memberi semangat, dan akhirnya menjadi dekat. Rasanya
seperti baru kemarin aku dibawa terbang mengitari angkasa, melihat indahnya
ruang antariksa, menyaksikan kerlip bintang, lengkap ditemani hangatnya
pelukan. Tapi hari ini, sudah ada banyak sekat tercipta, jarak yang membentang, ruang yang tak lagi sama, dan genggaman yang mulai merenggang.
Dunia
kejam, ya. Memisahkan dengan tamak apa yang sudah –dengan susah payah- kita
satukan. Merenggut dengan picik apa yang sudah –hingga berdarah-darah- kita
bangun. Merampas dengan paksa kebahagiaan yang sedang kita rasa. Menindas,
menggilas, seakan tak pernah merasa puas.
Tapi
apa hendak dikata? Aku manusia. Prosaku tak mungkin bisa mengalahkan jagat
raya.
Selamat
malam, Purnama.
Jika
memisahkan dirimu dari ku adalah yang terbaik menurut semesta, sinarmu kini
sudah pasti lebih benderang, kan?