2019/06/22


Selamat malam, kamu.
Sang purnama yang dulu sempat menerangiku.

Apa kabar?

Ku harap baik. Ku harap semesta menjagamu dengan sangat baik.

Waktu berjalan begitu cepat, ya. Rasanya baru kemarin kita berkenalan, menertawakan hal yang sama, saling memberi semangat, dan akhirnya menjadi dekat. Rasanya seperti baru kemarin aku dibawa terbang mengitari angkasa, melihat indahnya ruang antariksa, menyaksikan kerlip bintang, lengkap ditemani hangatnya pelukan. Tapi hari ini, sudah ada banyak sekat tercipta, jarak yang membentang, ruang yang tak lagi sama, dan genggaman yang mulai merenggang.

Dunia kejam, ya. Memisahkan dengan tamak apa yang sudah –dengan susah payah- kita satukan. Merenggut dengan picik apa yang sudah –hingga berdarah-darah- kita bangun. Merampas dengan paksa kebahagiaan yang sedang kita rasa. Menindas, menggilas, seakan tak pernah merasa puas.

Tapi apa hendak dikata? Aku manusia. Prosaku tak mungkin bisa mengalahkan jagat raya.

Selamat malam, Purnama.

Jika memisahkan dirimu dari ku adalah yang terbaik menurut semesta, sinarmu kini sudah pasti lebih benderang, kan?