2019/01/19


Akhir akhir ini kita berjarak. Seperti ada batu besar yang menghalangi setiap gerikku padamu. Begitu juga sebaliknya. Kita sama sama menjauh. Baik dalam hal perilaku maupun rasa. Sama – sama mengedepankan ego untuk saling tak acuh. Sama – sama mendahulukan emosi sebelum peduli. Sama – sama menggores luka pada hati sendiri.

Kita cocok, bukan? Sama sama keras. Sama – sama gengsi. Tidak ada yang mau mengalah. Selalu menganggap semua baik baik saja disaat perihnya luka sangatlah sesak dirasa. Haha. Ternyata kita pengecut, ya. Terlalu naif. Terlalu basi. Terlalu primitif. Terlalu kekanakkan. 20 tahun hidup, namun label dewasa masih menjadi angan.

Jika saja kamu tidak datang waktu itu, mungkin kebisuan kita tidak akan sebising ini. Tapi semua sudah terlambat. Hening sudah tercipta. Aku dan kamu sudah tak lagi bersuara. Diam diam menahan rasa dan menikmati sayatan luka.

Lalu sampai kapan?

Ada tiga opsi:
  1.       Sampai aku berubah pikiran untuk tak lagi menjadi tunawicara.
  2.       Sampai kamu siap untuk berceloteh tentang buah pikiranmu itu
  3.       Sampai hilang termakan waktu

Aku yakin kamu memilih opsi yang ketiga. Sama, aku juga. Sudah kubilang kan, kita sangat cocok.

Cocok untuk berpisah.
---

Kita aneh, ya. Penasaran tapi tak mau bertanya. Peduli tapi tak mau bersuara. Rindu tapi tak mau bertemu. Cinta tapi tak mau mengaku.

Ujungnya?

Terkoyak.

Lalu?

Mati.
---

Kamu jaga diri, ya. Perihal apa yang masih menggantung dan belum terselesaikan diantara kita, serahkan saja pada waktu. Karena ia adalah jawaban terbaik, bagi dua insan yang munafik.


Jakarta
A.C