Akhir
akhir ini kita berjarak. Seperti ada batu besar yang menghalangi setiap gerikku
padamu. Begitu juga sebaliknya. Kita sama sama menjauh. Baik dalam hal perilaku
maupun rasa. Sama – sama mengedepankan ego untuk saling tak acuh. Sama – sama
mendahulukan emosi sebelum peduli. Sama
– sama menggores luka pada hati sendiri.
Kita
cocok, bukan? Sama sama keras. Sama – sama gengsi. Tidak ada yang mau mengalah.
Selalu menganggap semua baik baik saja disaat perihnya luka sangatlah sesak dirasa.
Haha. Ternyata kita pengecut, ya. Terlalu naif. Terlalu basi. Terlalu primitif.
Terlalu kekanakkan. 20 tahun hidup, namun label dewasa masih menjadi angan.
Jika
saja kamu tidak datang waktu itu, mungkin kebisuan kita tidak akan sebising
ini. Tapi semua sudah terlambat. Hening sudah tercipta. Aku dan kamu sudah tak
lagi bersuara. Diam diam menahan rasa dan menikmati sayatan luka.
Lalu
sampai kapan?
Ada
tiga opsi:
- Sampai aku berubah pikiran untuk tak lagi menjadi tunawicara.
- Sampai kamu siap untuk berceloteh tentang buah pikiranmu itu
- Sampai hilang termakan waktu
Aku
yakin kamu memilih opsi yang ketiga. Sama, aku juga. Sudah kubilang kan, kita
sangat cocok.
Cocok
untuk berpisah.
---
Kita
aneh, ya. Penasaran tapi tak mau bertanya. Peduli tapi tak mau bersuara. Rindu
tapi tak mau bertemu. Cinta tapi tak mau mengaku.
Ujungnya?
Terkoyak.
Lalu?
Mati.
---
Kamu
jaga diri, ya. Perihal apa yang masih menggantung dan belum terselesaikan
diantara kita, serahkan saja pada waktu. Karena ia adalah jawaban terbaik, bagi
dua insan yang munafik.
Jakarta
A.C