2018/10/17

And then I stood there alone feeling like I was nothing.


Ternyata berjuang untuk menjadi yang kamu prioritaskan itu, susah ya. Saya seperti mengemis. Merengek – rengek memintamu untuk terus disini. Memaksa agar kamu terus bertahan. Mengikat supaya kamu tak pernah lepas. Sampai - sampai saya lupa jadi manusia. Atau malah kamu yang lupa kalau saya manusia?

Ah, sudahlah. Saya angkat tangan. Ternyata perjalanan ini memang tak bisa dilalui sendiri. And I thought you were willing to go with me. Tapi ternyata kamu cuma menoleh. Lalu setelahnya, pergi. Sama seperti yang lain.

Maaf ya sudah menjadi yang paling menyebalkan satu tahun belakang. Sudah membuatmu pusing dengan seluruh tingkah dan kekanakkan gadis 20 tahun ini. Sudah menganggu waktu luang yang harusnya bisa kamu gunakan untuk hal yang lebih penting. Sudah memaksamu untuk terus mengikuti kemauan saya. Sudah membuatmu merasa ‘ga enak kalo dibiarin’.

Calm down, I won’t annoy you anymore.

Saya tidak akan lagi mengirim lusinan stiker chat yang membuatmu kesal, atau memberi tebakan receh yang sudah banyak bertebaran di internet. Saya tidak akan lagi mengeluh tentang kantung mata yang menghitam ataupun kaki yang terasa sakit. Kamu akan jauh lebih tenang tanpa mendengar cerita cerita hayal dan tanpa makna yang saya punya. From now on, I swear I wont bother you, darl.

One last thing: no need to reply my text. If it’s bother you, just ignore it. Kalau tidak bisa dipenuhi, jangan beri saya harapan. It’s confusing, you know. You’re confusing.


ps: you're good to go, sweetheart:)