Ada tempat dimana saya tumbuh besar menjadi juara, ada tempat dimana saya tumbuh kembang menjadi dewasa, pun ada tempat dimana saya tumbuh kerdil menjadi liliput. Menyusut menjadi tulang-belulang bergerak yang tak tau kemana akan melangkah.
Rasanya
sudah lama sekali saya mengabaikan perasaan ini. Selalu berpikir bahwa dunia
sangat baik dan yang saya jalani sekarang sudahlah sangat ajaib. 23 tahun dan
berdikari. Saya punya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri. Dengan kerja
keras. Dengan keringat dan air mata. Dengan tawa dan canda. Even so, saya juga
punya kemampuan untuk memenuhi sedikit kebutuhan orang-orang terdekat saya. Membuat
mereka bahagia. Membuat mereka merasa dicinta.
But
life will only make you feel enough for a short time.
Hari
ini saya akan merangkul semua kesedihan yang selama ini selalu saya
tutup-tutupi. Selalu saya sembunyikan dengan tameng “aku bahagia kok, I dont
need anyone else”. And today I have to admit, it was all bullshit.
Disini
rasanya terlalu sepi. Sunyi, hening, hampa. Bukan karena orang-orangnya. Bukan karena
wilayahnya. Tapi karena saya, yang masih belum bertemu dengan orang yang bisa
saya ceritakan keseharian saya. Atau mungkin saya pernah bertemu, tapi
kehilangan orangnya. Atau mungkin saya tidak kehilangan, tapi memang dia yang
memilih untuk pergi. Atau mungkin bukan dia yang memilih pergi, tapi saya yang
tidak menjaganya.
Terlalu
rumit untuk diceritakan panjang lebar, tapi singkatnya saya butuh kamu. untuk
saya perdengarkan bagaimana hari saya berjalan, seperti apa bumi saya berputar, sekejam apa semesta yang saya jalani, seindah apa langit tempat saya berdiri. Saya
butuh kamu, untuk sekedar berbagi cerita tentang pahit-manis dunia. Untuk sekedar
berbagi hangat melalui peluk yang nyata.
Saya rangkul sepi ini. Saya dekap sunyi ini. Semoga dengan cepat kan berganti.
Ada tempat dimana semua hanyalah tawa dan yang saya rasa hanyalah cinta. Tapi tempatnya 200km dari sini. 6 jam perjalanan darat, dengan ongkos 150 rb untuk sekali jalan.
Ada tempat dimana semua adalah hangat, nyaman, dan penuh kasih. Tapi belum saya temui dimana letaknya. Masih terus dalam pencarian. Masih terus dibawa dalam setiap untaian doa.