Sebuah pengalaman berharga bagi saya dapat mengunjungi serta beramah – tamah bersama penduduknya selama 2 minggu terakhir. Jogja bukan hanya tempat saya menjalankan tugas lapangan. Tapi lebih dari itu, Jogja adalah cerita bahagia ditengah derita yang ada. Jogja adalah secuil tawa didalam luka. Jogja adalah kenangan indah yang terbalut oleh cinta.
Ada begitu banyak kisah menawan yang
disimpan Jogja selama 2 minggu terakhir. Mulai dari Parangtritis hingga
Ngestiharjo. Mulai dari penginapan hotel family hingga kebun buah Mangunan.
Semua berkesan. Semua berjejak. Cerita indah yang kelak kan terukir sebagai
sejarah.
Magisnya jalanan Malioboro, kursi taman
yang berjejer di atas trotoarnya, banner ‘gembira loka’ yang selalu menyambut
di lampu merah, angkringan kecil yang ada di setiap sepuluh meter jalanan,
benderangnya lampu – lampu kota, tas batik yang menjadi souvenir, keramahan
penduduknya, nasi gudeg yang selalu
menjadi teman terbaik, guyonan mas - mas tentang wc duduk yang harus membawa
kursi masing – masing, tangis responden menceritakan pernikahannya, hingga
petuah ibu Masnun bahwa semua yang kita punya hanyalah titipan. Ah, Jogja
begitu menenangkan.
Tapi waktu sangat terburu – buru.
Hingga yang tersisa hanyalah kenangan.
Syukur sebesar - besarnya kepada sang
Pencipta, telah mengenalkan Jogja dan seisinya kepada saya, telah mempertemukan
raga ini dengan jiwa – jiwa baik di luar sana.
Kini saatnya pergi. Menikmati hidup
seperti apa yang seharusnya dijalani.
Terimakasih, Jogja.
Cepat - cepat panggil saya untuk
kembali, ya!
16.15
Kereta Argo Lawu
Stasiun Tugu - Gambir