2018/06/17


teruntuk kamu, yang ingin sekali kupanggil sayang, namun masih terhalang keraguan.

akhirnya, laptopku kembali bersahabat. akhirnya, lembar kerja kosong ms. word dapat kembali ku lihat. akhirnya, waktu luang bisa kudapat. akhirnya, rangkaian kata ini dapat mulai kupahat.

setelah berbulan bulan ‘diganggu’, akhirnya aku punya kesempatan untuk menorehkan sedikit cerita tentang dirimu.

yuk mulai

hehe

aku sudah lama sekali menginginkan hal ini. duduk di depan laptop, membuka ms. word, dan menumpahkan kata kata yang telah lama tercekat. aku rindu seperti ini. saat saat dimana aku membisikkan kesepianku pada isi bumi lewat makna. saat saat dimana hanya ada aku, laptopku, dan frasa frasa tentang dirimu,

dirimu. aku menulisnya seakan hanya ada satu tokoh pemeran dalam prosaku. padahal nyatanya, ini kali pertama aku membual tentang dirimu. ini kali pertama, aku mendeskripsikan hadirmu dalam hidupku. setelah berbulan bulan lamanya, dan ini kali pertama. aneh.

mungkin, andilmu yang sangat besar dalam kebahagiaanku akhir akhir ini menjadi salah satu alasannya. aku lupa bagaimana harus menyatukan kata ketika senyummulah yang hanya mampu kuiingat. aku tak tau bagaimana harus merangkai majas ketika pesan singkat darimulah yang selalu ingin kubaca. aku tak mengerti bagaimana harus menulis, ketika hanya rupamulah yang terbayang olehku. tidak masuk akal memang, tapi aku bahagia.

sejatinya, kamu menyebalkan. kalau aku buat listnya, mungkin bisa sepanjang struk belanja bulanan ku di alfamart (ga panjang panjang amatsi, karena yang dibeli cuma 5 item:d) apalagi ketika kamu bilang kalau aku lambat dalam berfikir. ya gimana ga lambat, otakku sudah penuh sama kamu, mana bisa berfikir tentang yang lain. heuheu.

oke, yang ini serius.

kamu memang sering membuat kesal. sering membuat aku memutar bola mata. sering membuatku mengernyitkan dahi, bertanya tanya kenapa aku bisa mengenalmu. tapi, kamu juga yang menjadi alasan untuk setiap senyum yang mengembang. kamu yang menjadi alasan untuk setiap tawa yang terlepas. dan kamu jugalah yang menjadi alasan untuk perasaan yang masih tanpa nama ini.

kamu sulit dideskripsikan. sudah hampir dua jam mengembara, satu halaman pun belum kudapat. yang bisa kutulis hanyalah tentang keberadaanmu yang membuatku kesal tapi juga bahagia. yang bisa ku rangkai hanyalah untaian kata, tentang dirimu yang mendekatiku, dan aku yang mau didekati olehmu.

tapi, tahapan untuk menjadi ‘kita’ masihlah panjang. tidak semudah pemberian emot kiss dalam chat atau gombalan basimu tentang masa depan. 

seandainya pedulimu padaku bisa kunamai cinta, mungkin kata sayang sudah sedari dulu terucap. tapi hatiku pernah patah, percayaku pada cinta tidak lagi sekokoh yang dulu. perlu ada penegasan untuk menghilangkan keraguan ini. perlu ada keyakinan untuk mengamini rasa ini.  

kini saatnya mengambil langkah. kamu yang harus memperteguh keyakinanmu. dan aku yang harus memudarkan keraguanku. yang seperti ini patut diperjuangkan.

karena aku mau kamu abadi, bukan hanya dalam prosaku, tapi juga dalam hidupku.

bandarlampung, 15 juni 2018

ps: all sentences wrote in lowercase, no reason, just wanted to copy your style of writing